Peningkatan Kapasitas Tokoh Masyarakat (artikel ilmiah)

Abstrak:
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa tidak hanya dilakukan pada tahap pelaksanaannya saja namun perlu dimulai sejak perencanaan pembangunan dilakukan. Kapasitas tokoh masyarakat selaku aktor yang menjadi representasi dari warga masyarakat akan menentukan kontribusi mereka dalam merumuskan rencana pembangunan. Tulisan ini mendeskripsikan hasil dari kajian peningkatan kapasitas tokoh masyarakat dalam perencanaan partisipatif pembangunan desa. Kajian dilakukan di Desa Kondangjajar, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran melalui kegiatan pelatihan yang dihadiri oleh para tokoh masyarakat dari kalangan aparat desa, ketua RW, kepala dusun, anggota BPD, serta dari masyarakat umum. Aspek-aspek kapasitas aktor dikaji berdasarkan unsurunsur dari prinsip-prinsip dalam pelaksanaan perencanaan partisipatif yaitu: kedekatan, kesetaraan, komitmen, kejujuran, objektivitas, dan lokalitas masalah. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa pada unsur kedekatan masih ada keraguan terhadap pemikiran orang lain. Meskipun sikap menghargai orang lain bisa ditunjukkan, namun dalam proses diskusi masih terjadi upaya mendominasi pihak lain. Para tokoh dapat menerima keputusan kolektif dengan disertai keterbukaan akan sikap pribadinya. Dalam melihat realitas, para tokoh masih cenderung subjektif sesuai kepentingannya, meskipun mereka sudah dapat membatasi masalah pada tingkat lokal. Kata kunci: perencanaan, partisipasi, pembangunan desa, tokoh masyarakat

Kata Kunci: perencanaan, partisipasi, pembangunan desa, tokoh masyarakat

Simpulan:
Penggunaan teknik NGT memberikan kesadaran akan perlunya memperhatika pemikiran dan pendapat orang lain. Hal ini dapat mendorong warga masyarakat untuk mendapatkan kesempatan berpartisapasi dalam perencanaan pembangunan secara lebih aktif. Namun dalam prosesnya masyarakat di Desa Kondangjajar, khususnya para tokoh masyarakat cenderung untuk mengembangkan komunikasi dalam pengambilan keputusan secara verbal. Meskipun dalam aspek kedekatan diantara tokoh masyarakat sangat dekat, namun masih ada keraguan terhadap pemikiran orang lain. Sikap menghargai orang lain bisa ditunjukkan, namun dalam proses diskusi masih terjadi upaya mendominasi. Para tokoh dapat menerima keputusan kolektif dengan disertai keterbukaan akan sikap pribadinya. Dalam melihat realitas para tokoh masih cenderung subjektif sesuai kepentingannya meskipun mereka sudah dapat membatasi masalah pada tingkat lokal.

Full artikel, klik link ini: http://jurnal.unpad.ac.id/dharmakarya/article/view/14465/10360

No comments:

Post a Comment

Pelatihan Kewirausahaan Jahe Merah (artikel ilmiah)

Abstrak: Potensi kewilayahan Indonesia yang besar hingga saat ini belum termanfaatkan secara maksimal. Begitu pula dengan potensi kekayaan ...

Tentang Ipit Zulfan